![]() | |
|
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan subsidi energi tetap menjadi prioritas pemerintah bagi masyarakat pengguna LPG bersubsidi.
Menurutnya, penggunaan CNG dinilai lebih efisien karena memanfaatkan gas domestik dan mengurangi ketergantungan impor LPG.
“Tidak ada cara lain untuk membangun efisiensi selain mencari alternatif pengganti elpiji dari sumber energi dalam negeri,” ujar Bahlil.
Ia mengungkapkan, Indonesia masih mengimpor sekitar 8,6 juta ton LPG per tahun sehingga pemerintah harus mengeluarkan devisa Rp130 hingga Rp140 triliun, belum termasuk subsidi sebesar Rp70 hingga Rp80 triliun.
“Indonesia masih mengimpor 8,6 juta ton LPG per tahun dengan kebutuhan devisa sekitar Rp130-140 triliun, dan bisa lebih besar saat harga minyak dunia naik,” katanya.
Pemerintah memperkirakan penggunaan CNG berpotensi menghemat anggaran hingga 30 persen. Saat ini, CNG ukuran 12 hingga 20 kilogram telah digunakan di sejumlah hotel dan restoran karena dinilai lebih efisien.
Namun, pemerintah mengakui tabung berukuran besar belum memungkinkan digunakan oleh masyarakat umum, sehingga pengembangan tabung CNG ukuran kecil masih terus dikaji.
“Pemerintah masih menunggu uji coba tabung CNG 3 kilogram, karena ukuran 12 hingga 20 kilogram dinilai terlalu berat digunakan masyarakat,” tegasnya.
Bahlil menyebut proses pengkajian dan pengembangan tabung CNG rumah tangga tersebut telah dilakukan pemerintah sejak satu tahun terakhir.
Reporter: Hutabarat
Redaksi: DetikNews
👁 896
