![]() |
| Jacob Erseste, Penulis dan Pengamat Kebijakan Publik Indonesia (Foto: Dok. Editor DetikNews) |
Di tengah kegaduhan itu, teringat satu hal mendasar yang kerap terabaikan, yakni keseimbangan antara rasio dan nurani, antara otak dan hati.
Dalam lanskap kehidupan modern, manusia cenderung memberi ruang berlebih pada intelektualitas. Pikiran dipacu untuk terus bekerja, mengejar capaian, dan menaklukkan berbagai target. Sementara itu, hati perlahan tertinggal, tak lagi didengar, bahkan sering diabaikan.
Dampaknya tampak sederhana, namun nyata, mulai dari kegelisahan, kelelahan batin, hingga pikiran yang riuh tanpa arah. Pada titik inilah spiritualitas menemukan relevansinya, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai penyeimbang.
Spiritualitas, dalam makna yang lebih dalam, adalah latihan kesadaran diri. Ia menjadi upaya menata kegaduhan batin menjadi ketenangan. Jalannya beragam, mulai dari praktik yoga hingga laku batin khas Nusantara yang menekankan perjalanan ke dalam diri.
Dalam tradisi Jawa, dikenal konsep Manunggaling Kawula lan Gusti, yaitu sebuah kesatuan antara manusia dan Sang Pencipta. Pendekatan ini berbeda dengan kecenderungan Barat yang kerap mencari ketenangan di luar diri. Spiritualitas Nusantara justru mengajak manusia menyelami batin dan menemukan harmoni dari dalam.
Gagasan ini bahkan melampaui ranah personal. Dalam ruang publik, termasuk politik, keseimbangan antara rasio dan nurani menjadi syarat mutlak. Rasio tidak boleh menjadi otoriter, dan hati tidak seharusnya dibungkam. Ketika keseimbangan itu hilang, yang lahir bukan kebijakan bijak, melainkan keputusan kering yang berpotensi menyesatkan.
Dari ketimpangan tersebut, berbagai penyimpangan dapat muncul, seperti korupsi, ingkar janji, hingga pengkhianatan terhadap amanah rakyat.
Dengan demikian, spiritualitas bukanlah upaya menjauh dari realitas, melainkan cara menghadapi dunia tanpa kehilangan arah. Ia menjadi jalan untuk menyeimbangkan dimensi lahir dan batin, antara dunia dan makna.
Realitas ini juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mencari ketenangan di alam, baik di gunung, laut, maupun ruang sunyi, seolah menyadari adanya kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Di ranah sastra, kecenderungan ini semakin menguat. Puisi-puisi bernuansa spiritual berkembang, tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga kedalaman makna. Puisi esai kini menjadi ruang kontemplasi yang luas dan memuat pesan yang bersifat profetik.
Bagi sebagian kalangan, ini bukan sekadar tren, melainkan cara bertahan di tengah dunia yang semakin riuh dan tak menentu.
Spiritualitas hadir sebagai jeda sekaligus penuntun. Sebuah pengingat sederhana namun mendalam bahwa ketika dunia terasa tidak seimbang, yang pertama kali perlu dibenahi mungkin bukan dunia itu sendiri, melainkan diri kita.
Oleh: Jacob Ereste
Redaksi: DetikNews
👁 1.725
Tags
Detik Opinion
